Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulas Budidaya Bawang Daun Lengkap dengan Jenis dan Syarat Tumbuhnya

Budidaya bawang daun sering dilakukan petani. Pasalnya, bawang daun menjadi sayuran yang banyak digemari masyarakat. Sejauh ini, bawang daun banyak digunakan untuk pelengkap masakan, mulai dari telor dadar, sayur sop, mendoan dan lain sebagainya.

Tanaman ini memiliki nama yang berbeda di setiap daerah. Ada yang menyebutnya sebagai muncang, uncang dan tropong. Tanaman penyedap masakan ini menjadi komoditas sayuran yang sangat layak dibudidayakan. Bagaimana cara budidaya bawang daun? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Mengulas Budidaya Bawang Daun Lengkap dengan Jenis dan Syarat Tumbuhnya
Tanaman bawang daun (pixabay.com)

Jenis Bawang Daun

Sebelum membahas tentang cara budidaya bawang daun, tak ada salahnya jika kita mengenal terlebih dahulu jenis-jenis bawang daun. Jenis tersebut antara lain:

1. Bawang Prei (Allium porum L)

Jenis ini memiliki daun yang lebih lebar dibandingkan dengan bawang merah dan bawang putih, berbentuk panjang, dan pipih serta tidak membentuk umbi.

2. Bawang Kucai (Allium choercoprasum)

Bawang kucai mempunyai daun yang kecil, panjang dan rongga kecil di dalam daun yang berwarna hijau dan membentuk umbi kecil

3. Bawang bakung (Allium fistulosum)

Jenis bawang daun ini mempunyai daun yang berdaun bulat panjang dengan rongga daun seperti pipa dan kadang-kadang membentuk umbi.

Syarat Tumbuh Bawang Daun

Bagian penting dalam budidaya bawang daun yaitu memahami syarat tumbuh dari tanaman tersebut. Bawang daun diketahui cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 250-1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Walaupun demikian, bawang daun yang ditanam di dataran rendah hasilnya kurang maksimal. Sebab anakan yang dihasilkan tidak terlalu banyak. 

Daerah dataran tinggi dengan curah hujan 150-200 mm/tahun dan memiliki suhu 18-25 derajat Celcius menjadi tempat ideal untuk pertumbuhan bawang daun. Tanaman ini juga cocok pada tanah Andosol dengan pH (6,5-7,5).

Budidaya Tanaman Bawang Daun

Proses budidaya tanaman sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari benih hingga proses panen dan pascapanen. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Benih

Benih bawang daun dapat berasal dari tunas anakan maupun biji. Tunas anakan dapat diperoleh dengan cara memisahkan anakan dari induknya yang sehat dan bagus pertumbuhannya. Benih dari biji memiliki kekurangan waktu panen yang lebih lama dibandingkan benih dari tunas anakan.

2. Persemaian

Setelah mendapatkan benih yang sesuai, tahapan budidaya bawang daun selanjutnya yaitu melakukan persemaian. Proses ini memerlukan media semai dari campuran pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan (1:1). 

Benih disebar secara merata, lalu ditutup dengan lapisan tanah tipis, disiram secukupnya dan secara rutin. Setelah itu, benih akan tumbuh menjadi tanaman muda atau bibit yang siap tanaman jika sudah mempunyai 2-3 daun.

3. Persiapan Lahan

Tahapan yang ketiga dalam proses menanam bawang daun yaitu mempersiapkan lahan. Berikut tata caranya:

  • Lahan digemburkan dengan kedalamam 30-40 cm untuk menunjang pertumbuhannya.
  • Kemudian lahan dibentuk bedengan dengan lebar 1-1,2 meter. Panjang lahan disesuaikan kondisi lahan.
  • Tambahkan pupuk kandang.
  • Buat parit diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm dan lebar 30 cm. Pembuatan parit sangat diperlukan agar drainase lancar karena bawang daun akan busuk ketika ada genangan air.

4. Penanaman

Jika lahan sudah siap, maka langkah selanjutnya yaitu penanaman bibit bawang daun. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dan bibit ditanam dengan posisi tegak lurus. 

Setelah itu tutup bagian bawah bibit dengan tanah kembali. Jangan lupa atur jarak tanamnya. Umumnya jarak tanam yang digunakan 20 cm x 25 cm, 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 30 cm.

5. Pemeliharaan

Pemeliharaan juga sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya bawang daun. Pemeliharaan yang biasanya dilakukan, antara lain:

a. Penyiangan gulma

Penyiangan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya berguna untuk mengurangi persaingan penyerapan unsur hara.

b. Penyiraman

Penyiraman sangat diperlukan terutama saat bawang daun ditanam pada musim kemarau. Apabila ditanam pada musim hujan, drainase harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi genangan air di lahan.

c. Pemupukan

Pupuk yang diberikan terdiri dari pupuk kandang sebagai pupuk dasar (diberikan pada saat pengolahan tanah) dengan dosis 10-15 ton/ ha. Selain itu ada juga pupuk susulan seperti:

  • Urea 100 kg/ha yang diberikan pada saat tanaman berumur 21 hari.
  • Urea 100 kg/ha pada saat tanaman berumur 42 hari.
  • SP36 50 kg dan KCl 50 kg,
  • SP36 50 kg dan KCl 25 kg.

Pemupukan dilakukan dengan membuat larikan kurang lebih 5 cm di kiri dan kanan batang, dan menaburkan pupuk pada larikan tersebut dan menimbunnya kembali dengan tanah.

d. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Pengendalian OPT diperlukan untuk menjaga kesehatan tumbuhan. Beberapa hama yang biasanya menyerang bawang daun antara lain:

  • Spodoptera exigua : ulat bawang yang memakan daun bawang daun
  • Agrotis sp.: menyebabkan batang terpotong dan putus sehingga tanaman mati
  • Thrips: menghisap cairan daun

Pengendalian ulat bawang secara mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan memusnahkannya. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan cermat seperti pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Sementara itu beberapa patogen yang biasanya ditemukan pada praktik budidaya bawang daun yaitu:

  • Alternaria porri: bercak ungu yang terlihat daun.
  • Erwinia carotovora: dengan gejala berupa busuk lunak, basah dan mengeluarkan bau yang tidak enak.

Pengendalian penyakit tersebut dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit dan pembersihan kebun. Kondisi kebun yang kotor dan lembap menyebabkan penyakit dapat berkembang dengan cepat.

6. Panen dan Pascapanen

Tanaman bawang daun dapat mulai dipanen pada umur 60 hari setelah tanam. Potensi hasilnya berkisar 7-15 ton/ha. Pemanenan dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman termasuk akar, buang akar dan daun yang busuk atau layu. 

Apabila bawang daun akan ditanam kembali pada pertanaman berikutnya, maka dilakukan pemilihan tunas anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya. Kemudian dipisahkan dari bagian tanaman yang hendak dijual. 

Sortasi sederhana dilakukan dengan menggabungkan tanaman yang berdaun besar secara terpisah dengan tanaman yang berdaun kecil. Pengikatan rumpun bawang daun dilakukan dengan lebih dahulu memberi alas pada bagian luar rumpun. 

Hal tersebut bertujuan agar ikatan tidak langsung mengenai rumpun bawang daun. Bawang daun tidak dapat disimpan lama, sehingga sebaiknya segera dipasarkan agar kualitasnya masih terjaga saat sampai ke tangan konsumen.

Demikian beberapa hal tentang budidaya bawang daun yang perlu diketahui.

Referensi:
Setiawati, W., Murtiningsih, R,M Sopham G.A., & Handayani, T. 2007. Petunjuk Teknik Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Bandung.

Posting Komentar untuk "Mengulas Budidaya Bawang Daun Lengkap dengan Jenis dan Syarat Tumbuhnya"