Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Sistem Hidroponik Lengkap dengan Cara Kerjanya

Kesuksesan pertanian hidroponik sangat bergantung pada media tanam dan sistem hidroponik yang digunakannya. Jika kedua hal yang tersebut sesuai, maka peluang hasil panen melimpah akan semakin besar. 

Hasil panen yang melimpah dan berkualitas akan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan primer manusia. Salah satu kebutuhan primer tersebut yaitu pangan. Seiring bertambahnya populasi manusia, maka kebutuhan akan bahan pangan juga semakin bertambah.

Di zaman yang modern seperti sekarang ini, cara manusia memenuhi kebutuhan primernya yaitu dengan cara bertani secara hidroponik. Namun untuk bisa menghasilkan pangan berkualitas dari hidroponik, salah satu pengetahuan yang harus dipahami terlebih dahulu yaitu terkait sistem hidroponik tersebut. 

Ada terdapat banyak  sistem hidroponik yang bisa diterapkan mulai dari menggunakan pipa paralon PVC hingga alat khusus yang serba otomatis. Untuk penjelasan lebih lengkap tentang sistem hidroponik, yuk simak ulasannya berikut ini. 

6 Sistem Hidroponik Lengkap dengan Cara Kerjanya
Hidroponik dan sistem yang digunakannya (pixabay.com)

Sistem Hidroponik dan Cara Kerjanya

1. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

Sistem NFT yaitu metode budidaya tanaman hidroponik dimana akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal. Penggunaan sistem ini akan membuat nutrsi terus tersirkulasi, sehingga tanaman mendapatkan cukup nutrsi, air, dan oksigen. 

Sistem hidroponik ini pertama kali di kembangkan oleh Dr. A.J. Cooper di Glasshouse Crops Research Institue, Inggris. Dengan menggunakan sistem NFT, akar tanaman terendam dalam air berisi larutan nutrisi yang disirkulasikan terus-menurus menggunakan pompa pada media Polyethylene seperti paralon PVC. 

Larutan nutrisi ditempatkan pada wadah penampung, sehingga tidak terbuang dan dapat disirkulasikan terus menerus. Sedangkan pada bagian pangkal batang tanaman tidak menyentuh nutrisi karena terdapat netpot dan sterofoam. Dengan demikian tanaman tidak mudah busuk.

2. Sistem sumbu (Wick System)

Sistem hidroponik berikutnya yaitu sistem wick. Sistem ini merupakan sistem hidroponik paling sederhana dan  hemat. Pasalnya tidak ada bagian yang bergerak, sehingga tidak perlu menggunakan pompa atau listrik. 

Sistem ini disebut juga dengan sistem pasif, karena akar tidak bersentuhan langsung dengan nutrisi. Hal tersebut yang membuat sistem wick dinamakan sistem sumbu. Cara pemberian nutrisi ke akar tanaman disalurkan dengan bantuan sumbu.

Sumbu di buat dari beberapa material sederhana seperti; kain bekas, selimut bekas, kain flanel, sumbu kompor, wol tebal, tali nilon, tali kapas dan masih banyak lainnya. Walaupun murah dan sederhana, namun sistem wick kurang efektif untuk tanaman yang memerlukan banyak air. Sistem ini sangat cocok untuk pemula yang ingin menggeluti bidang hidroponik.

3. Sistem Irigasi Tetes (Drip System)

Sistem irigasi tetes adalah sistem hidroponik yang menggunakan teknik menghemat air dan nutrsi dengan cara meneteskan air dan nutrisi secara perlahan langsung pada akar tanaman. Sistem irigasi tetes disebut juga sistem fertigasi. Hal ini karena pengairan dan pemberian nutrisi dilakukan sekaligus.

Sistem drip ini berasal dari Israel, yang merupakan gurun pasir, sehingga penggunaan air harus efektif dan efisien. Sistem ini sangat sesuai digunakan baik di greenhouse maupun di lahan terbuka. Teknik ini dapat dirancang menyesuaikan kebutuhan lahan, baik dari skala kecil maupun skala besar.

4. Sistem Rakit Apung (Water Culture System)

Sistem rakit apung dikembangkan oleh Massantini pada tahun 1976 di Italia dan Jansen pada tahun 1980 di Arizona. Sistem rakit apung merupakan sistem hidroponik aktif yang paling sederhana. Selain itu, sistem ini juga relatif mudah digunakan, karena tidak memerlukan alat dan bahan yang banyak. Alat yang dapat digunakan seperti box plastik, sterofoam dan aerator.

5. Sistem Pasang Surut (Ebb and Flow System)

Sistem pasang surut disebut juga Flood and Drain, sistem hidroponik ini bekerja dengan cara yang unik. Nutrsi, air, dan oksigen dalam bak penampung nutrisi akan dipompa menuju bak penampung tanaman yang nanti akan membasahi akar tanaman (pasang). 

Setelah beberapa waktu, air dan nutrisi dari bak penampungan tanaman akan turun menuju bak penampungan nutrisi kembali (surut). Waktu pasang dan surut nutrisi dapat diatur menggunakan timer sesuai kebutuhan tanaman, supaya tanaman tidak tergenang atau kekurangan air.

6. Sistem Aeroponik

Aeroponik berasal dari kata “aero” yang memiliki arti udara dan “phonic” yang memiliki arti cara menanam. Jadi, aeroponik adalah metode menaman dengan media udara pada perakarannya. Nutrisi disemprotkan dalam bentuk kabut pada sistem perakaran tanaman. 

Sistem ini merupakan sistem hidroponik yang paling canggih dan rumit, karena memerlukan bantuan teknologi dan tempat yang khusus. Akar tanaman menggantung pada suatu wadah dan nutrisi disemprotkan terus menerus dengan semburan berbentuk kabut misalnya 2 menit sekali. Kebutuhan penyemprotan menyesuaikan jenis tanaman dan fase tumbuh tanaman.

Itu dia enam sistem hidroponik beserta kerjanya. Setelah memahami sistem tersebut, kini Anda bisa memilih sistem hidroponik yang sesuai dengan kebutuhan.  

Sumber: Susilawati. 2019. Dasar-dasar Bertanam Secara Hidroponik. Unsri Press, Palembang.
 

Posting Komentar untuk " 6 Sistem Hidroponik Lengkap dengan Cara Kerjanya"