JENDRAL HOEGENG

Jendral Hoegeng


Biografi Lengkap Jendral Hoegeng

Jendral Hoegeng (nama lahir: Iman Santoso; 14 Oktober 1922 – 14 Juli 2004) adalah tokoh penting dalam sejarah kepolisian Indonesia yang dikenal sebagai perwira paling berani dan jujur dalam perjuangan memerangi korupsi di institusi kepolisian nasional. Beliau menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional Indonesia dari 1968 hingga 1970 dan meninggalkan warisan penting tentang integritas dan penegakan hukum yang adil.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Hoegeng dilahirkan di Pekalongan pada 14 Oktober 1922 dari keluarga yang memiliki latar belakang hukum. Ayahnya adalah Soekarjo Kario Hatmodjo dari Tegal, seorang jaksa penuntut di Pekalongan, sementara ibunya adalah Oemi Kalsoem. Beliau memiliki dua adik perempuan bernama Titi Soedjati dan Soedjatmi.

Nama "Hoegeng" berasal dari kata "bugel" (gemuk), mengingat ketika kecil Iman Santoso gemuk, yang kemudian berkembang menjadi "bugeng," lalu "hugeng," dan akhirnya menjadi "Hoegeng". Inspirasi untuk menjadi seorang polisi datang dari Ating Natadikusumah, teman ayahnya yang menjabat sebagai kepala polisi di kota kelahirannya.

Pendidikan formal Hoegeng dimulai dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pekalongan, lulus pada 1934, dilanjutkan dengan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di kota yang sama selama tiga tahun. Untuk pendidikan menengah atas, Hoegeng pindah ke Yogyakarta dan masuk ke Algemene Middelbare School (AMS) dengan konsentrasi bahasa Barat dan sastra, di mana beliau berteman dengan Burhanuddin Harahap (senior), Soedarpo Sastrosatomo (teman sekelas), serta Usmar Ismail dan Rosihan Anwar (junior).

Setelah lulus pada 1940, Hoegeng melanjutkan studi ke Jakarta untuk mengikuti Program Recht Hoge School (RHS; sekolah hukum), meskipun sebagian keluarganya menginginkan Hoegeng masuk ke Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA; sekolah pelatihan pegawai sipil). Di RHS, beliau terlibat aktif dalam organisasi mahasiswa Unitas Studiosorum Indonesiensis (USI) di mana bertemu dengan tokoh-tokoh penting seperti Soebadio Sastrosatomo, Subandrio, Oemar Senoadji, Chairul Saleh, dan Hamid Algadrie.

Periode Penjajahan Jepang

Ketika Jepang melakukan pendudukan pada Maret 1942 terhadap Hindia Belanda, pendidikan formal Hoegeng terhenti karena sekolah hukum ditutup. Beliau pulang ke Pekalongan dan mengisi waktu luang dengan berdagang telur dan buku pelajaran Jepang, berkeliling dari satu kota ke kota lain seperti Pati dan Semarang bersama teman Soehardjo Soerjobroto. Di Semarang, melalui seorang kerabat, Hoegeng mendapat kesempatan bekerja di stasiun radio Hoso Kyoku dan diterima satu bulan kemudian.

Sambil bekerja di stasiun radio, Hoegeng mendaftar untuk mengikuti pelatihan kepolisian yang dibuka di Pekalongan. Dari 130 pelamar, hanya 11 yang diterima, dan Hoegeng adalah salah satunya. Sebagai bagian dari persiapan karir, Hoegeng kemudian mengikuti pelatihan di Marshall General School di Military Police School, Fort Gordon, Georgia, Amerika Serikat.

Karir Awal Sebagai Polisi

Awalnya, Hoegeng merasa kecewa karena lulusan pelatihan kepolisian pertama bukan untuk menjadi perwira berpangkat tinggi (inspektur kedua), melainkan dua pangkat lebih rendah. Namun demikian, beliau tetap melanjutkan pelatihan dan menjalani tugas sebagai polisi reguler di kota setelah sesi pelatihan harian. Rekan-rekan Hoegeng dalam pelatihan ini, termasuk para pelatih dan sesama kadet, kemudian menjadi perwira berpangkat tinggi yang dikenal luas seperti Soemarto, Soehardjo Soerjobroto, Soerojo, dan Soedjono Partokoesoemo.

Setelah menyelesaikan pelatihan pertama, Hoegeng ragu-ragu apakah akan melanjutkan karir sebagai polisi atau beralih menjadi hakim. Namun, Soemarto, pelatihnya, mendorong Hoegeng untuk mengikuti pelatihan polisi lanjutan di Sukabumi. Hoegeng diterima bersama enam orang lainnya dari Pekalongan, meskipun pada saat itu beliau tidak serius dalam mengikuti seleksi.

Di Sukabumi, Hoegeng mengikuti kursus Koto Kaisatsu Gakko untuk pelatihan polisi tingkat lanjut. Sebelum lulus, Hoegeng dan rekan-rekannya mengharapkan promosi ke pangkat Junsabucho, namun justru mereka didemosi menjadi Minarai Junsabucho. Protes besar-besaran dilakukan hingga Jendral Kumakichi Harada dari Sixteenth Army mengunjungi tempat tersebut untuk menenangkan situasi.

Pada 1944, Hoegeng lulus dan bersama tiga temannya—Soetrisno, Noto Darsono, dan Soenarto—ditugaskan ke Chiang Bu (departemen keamanan) Semarang. Hoegeng dan Soenarto menempati pos Koto Kei Satsuka (divisi intelijen), sementara Noto dan Soetrisno masing-masing ditempatkan di Keimu Ka (urusan umum) dan Keiza Ka (urusan ekonomi). Setelah beberapa minggu di Semarang, Hoegeng dipromosikan menjadi Kei Bu Ho II, dan beberapa bulan kemudian menjadi Kei Bu Ho I.

Transisi ke Kepolisian Independen Indonesia

Satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Soeprapto—teman ayah Hoegeng—mengumpulkan petugas polisi lokal termasuk Hoegeng dan atasannya Soekarno Djojonegoro untuk menginformasikan tentang kemerdekaan Indonesia dan adanya transfer kekuasaan.

Pada Oktober 1945, Hoegeng dirawat di rumah sakit (kini Rumah Sakit Dr. Kariadi) di Semarang setelah mengalami gegar otak saat menjalankan tugas menjaga tahanan Jepang. Pada saat bersamaan, terjadi Pertempuran Lima Hari antara pejuang Indonesia dan tahanan Jepang. Sebelum rumah sakit diserang, Hoegeng melarikan diri karena tidak betah suasana rumah sakit. Setelah pertempuran mulai mereda, seorang dokter merekomendasikan Hoegeng untuk istirahat, dan beliau kemudian cuti dan beristirahat di Pekalongan.

Saat berada di Pekalongan, Hoegeng dikunjungi oleh Komodo M. Nazir—yang kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Laut pertama. Nazir tertarik pada Hoegeng karena ingin membentuk polisi militer angkatan laut dan menawarkan Hoegeng untuk bergabung dengan angkatan laut. Hoegeng menerima penawaran ini terutama karena menginginkan tantangan baru, mengingat korps kepolisian sudah mapan. Dengan pangkat Mayor, Hoegeng mendapatkan hak tinggal di Hotel Merdeka, Yogyakarta, dan menerima gaji 400 IDR per bulan.

Di bawah kepemimpinan Letnan Kolonel Darwis, Komandan Pangkalan Angkatan Laut di Tegal, tugas pertama Hoegeng adalah merumuskan fondasi dasar polisi militer yang awalnya diberi nama Penyelidik Militer Laut Khusus (PMLC). Namun, tidak lama kemudian, Soekanto Tjokrodiatmodjo—kepala kepolisian—meyakinkan Hoegeng untuk kembali bergabung dengan korps kepolisian.

Kehidupan Pribadi dan Karir di Kepolisian Sipil

Selama tinggal di Yogyakarta, Hoegeng juga aktif sebagai tokoh utama dalam siaran drama radio berjudul Saija dan Adinda yang disiarkan oleh radio Angkatan Laoet, Darat, dan Oedara (ALDO) dan RRI Yogyakarta. Dalam drama ini, Hoegeng berperan bersama Meriyati Roeslani, yang kemudian menjadi isterinya. Meriyati lahir pada 1925, dan mereka menikah pada 31 Oktober 1946 di Jetis, Yogyakarta.

Setelah menikah, Hoegeng menyerah dari angkatan laut untuk mengejar impian masa kecilnya menjadi seorang polisi sipil. Dari pernikahan ini, Hoegeng dan Meriyati memiliki satu putra bernama Aditya Soetanto Hoegeng dan dua putri: Sri Pamujining Rahayu dan Renny Soerjanti Hoegeng (yang kemudian menjadi mantan istri aktor Rudy Wowor).

Masa Pendudukan Belanda dan Kemerdekaan

Setelah kembali ke kepolisian, Hoegeng terdaftar sebagai siswa Akademi Kepolisian di Mertoyudan, Magelang. Selama liburan pertengahan 1947, Hoegeng dan isterinya yang sedang hamil mengunjungi keluarganya di Pekalongan. Namun pada 21 Juli 1947, militer Belanda melakukan operasi militer, memaksa Hoegeng dan keluarganya melarikan diri ke selatan kota.

Soekarno Djojonegoro, kepala polisi Pekalongan, menginformasikan kepada Hoegeng bahwa Soekanto telah memerintahkan semua siswa akademi untuk membantu departemen kepolisian lokal. Tugas Hoegeng saat itu adalah mengumpulkan bahan intelijen. Namun, beliau kemudian ditangkap oleh petugas polisi yang bekerja untuk Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA). Menariknya, Hoegeng diperlakukan dengan baik selama penangkapan, tidak seperti yang lain. Beliau kemudian mengetahui bahwa perintah itu berasal dari de Bretonniere, teman Hoegeng di RHS.

Meski ditawari untuk bekerja sama dengan NICA, Hoegeng menolak. Setelah tiga minggu, beliau dibebaskan dan memutuskan untuk mengunjungi markas komando Yogyakarta. Bersama istri dan orang tuanya, Hoegeng pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Di Jakarta, Hoegeng bertemu Soemarto yang saat itu adalah wakil kepala polisi, dan diminta menjadi bawahannya. Hoegeng menerima tetapi ingin mengunjungi Yogyakarta lebih dulu. Soemarto membantu dan memberi izin Hoegeng untuk pergi sendirian pada September 1947.

Di Yogyakarta, Hoegeng melaporkan tugas kepada Soekanto dan meminta izin untuk bekerja sebagai bawahan Soemarto di Jakarta; Soekanto memberikan persetujuan. Pada November 1947, Hoegeng mulai bekerja sebagai asisten Soemarto dengan tugas mengamati para tahanan politik Indonesia dan membantu mereka jika memungkinkan. Selama di Jakarta, Hoegeng berkorespondensi dengan tokoh-tokoh penting seperti Sudirman, Hamengkubuwono IX, Oerip Soemohardjo, Suryadi Suryadarma, dan M. Nazir.

Karir Menengah dalam Kepolisian

Sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an, Hoegeng terus memanjat jenjang karir dalam struktur kepolisian Indonesia. Pada 1952, Hoegeng menjadi Kepala kantor polisi DPKN (Direktorat Pembinaan Keamanan Nusantara) di Surabaya, Jawa Timur.

Pada 1956, Hoegeng dipromosikan menjadi Kepala BARESKRIM (Biro Reserse dan Kriminal) di Medan, Sumatera Utara. Tanggung jawab ini menempatkan Hoegeng dalam posisi strategis untuk menangani kasus-kasus kriminal penting.

Pada 1959, Hoegeng mengikuti sekolah pelatihan Mobile Brigade (BRIMOB) dan menjadi staf direktorat II. Posisi ini menunjukkan kepercayaan institusi kepolisian terhadap kompetensi dan integritas Hoegeng.

Pada 1960, Hoegeng ditugaskan sebagai Kepala Imigrasi dan Bea Cukai, menunjukkan perluasan tanggung jawab administratif dan pengawasan perbatasan.

Pada 1965, dalam Kabinet Dwikora, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Perekonomian. Posisi ini merupakan puncak karir sipil Hoegeng di luar kepolisian sebelum kembali ke institusi keamanan.

Pada 1966, dalam Kabinet Dwikora Edisi Kedua yang Sudah Direvisi (Second Revised Dwikora Cabinet), Hoegeng diangkat menjadi Sekretaris Kabinet.

Kepemimpinan sebagai Kepala Kepolisian Nasional

Hoegeng menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional Indonesia dari 1968 hingga 1970. Meskipun masa jabatannya sangat singkat—hanya dua tahun—dampak kepemimpinannya sangat signifikan. Hoegeng terkenal karena usaha konsisten dan berani dalam memberantas korupsi serta menghilangkan permainan kekuasaan dalam institusi kepolisian Indonesia, sekaligus mempromosikan keadilan pidana yang setara bagi semua lapisan masyarakat.

Pada era ketika mayoritas pejabat pemerintah terserang korupsi endemik, kepemimpinan Hoegeng berdiri sebagai pencerahan moral dan profesionalisme dalam institusi kepolisian. Integritas dan dedikasi Hoegeng terhadap hukum yang adil menjadikan beliau sebagai simbol harapan bagi penegakan hukum yang bersih di Indonesia.

Kehidupan Pasca-Kepemimpinan Kepolisian

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Kepala Kepolisian, Hoegeng tidak mundur dari kehidupan publik. Beliau tampil di TVRI memainkan gitar Hawaii bersama band "The Hawaiian Seniors" dan menjadi pembawa acara acara musik The Hawaiian Seniors (awalnya bernama Irama Lautan Teduh) dari 1968 hingga 1979.

Secara periodik, Hoegeng tampil bersama isterinya yang dikenal sebagai Merry Hoegeng, maupun dengan putrinya Reny Hoegeng atau putranya Aditya Hoegeng. Aktivitas ini menunjukkan sisi humanis dan kreatif Hoegeng di luar tanggung jawab institusional kepolisian.

Penghargaan dan Pengakuan

Pengabdian Hoegeng terhadap negara dan integritas pribadinya diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi. Penghargaan nasional yang diterima meliputi:

  • Bintang Mahaputera Utama (14 Agustus 2004)
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Dharma
  • Bintang Bhayangkara Utama
  • Bintang Kartika Eka Paksi Utama
  • Bintang Jalasena Utama
  • Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
  • Satyalancana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan
  • Satyalancana Satya Dasawarsa
  • Satyalancana Jana Utama
  • Satyalancana Ksatriya Tamtama
  • Satyalancana Prasetya Pancawarsa
  • Satyalancana Perang Kemerdekaan I dan II
  • Satyalancana G.O.M I
  • Satyalancana Sapta Marga
  • Satyalancana Penegak

Pengakuan internasional juga diterima Hoegeng, termasuk:

  • Knight Grand Cross of the Most Noble Order of the Crown of Thailand (Thailand)
  • Knight Grand Cross of the Order of Orange-Nassau (Belanda)
  • Panglima Setia Mahkota (P.S.M.) (Malaysia)

Penghargaan-penghargaan ini mencerminkan pengakuan baik dalam maupun luar negeri terhadap dedikasi dan integritas Hoegeng.

Masa Akhir Hidup dan Warisan

Jendral Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004 pada usia 81 tahun. Warisan yang ditinggalkannya bukan hanya dalam bentuk prestasi karir, melainkan juga standar moral dan profesionalisme dalam kepolisian Indonesia.

Dalam sejarah penegakan hukum Indonesia, Hoegeng dikenang sebagai tokoh yang berani mengambil sikap tegas terhadap korupsi di saat ketika sebagian besar pejabat pemerintah masih terikat dengan praktik-praktik tidak etis. Komitmennya terhadap keadilan pidana yang adil, tanpa memandang status sosial, menjadikan beliau sebagai pionir reformasi institusional dalam kepolisian Indonesia.

Karir panjang Hoegeng dari tahun 1940-an hingga pensiun menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap negara dan institusi kepolisian. Beliau adalah bukti hidup bahwa integritas dan kejujuran dapat bertahan dan berkembang bahkan dalam lingkungan yang penuh dengan tantangan korupsi dan permainan kekuasaan.


Timeline Perjalanan Karir Jendral Hoegeng

Penjelasan Detail Fase-Fase Karir

Fase Pertama: Periode Pendudukan Jepang (1942-1945)

Perjalanan karir Hoegeng dimulai saat pendudukan Jepang. Setelah menyelesaikan awal pendidikan hukum, Hoegeng mengisi waktu luang dengan berdagang dan kemudian bekerja di Stasiun Radio Hoso Kyoku di Semarang. Beliau mendaftar untuk pelatihan kepolisian di Pekalongan dan diterima sebagai salah satu dari 11 dari 130 pelamar. Menjelang akhir pendudukan Jepang pada 1944-1945, Hoegeng dipromosikan dari posisi awal menjadi Kei Bu Ho (petugas intelijen polisi) dengan pangkat II, kemudian I di Semarang.

Fase Kedua: Transisi Kemerdekaan dan Angkatan Laut (1945-1946)

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Hoegeng terlibat dalam operasi penting di Semarang termasuk penjagaan tahanan Jepang. Setelah mengalami gegar otak, beliau diarahkan oleh Komodo M. Nazir untuk bergabung dengan Polisi Militer Angkatan Laut dengan pangkat Mayor di Yogyakarta. Namun karir ini berumur pendek karena Hoegeng kembali ke kepolisian sipil untuk mewujudkan impian masa kecilnya. Pada 31 Oktober 1946, beliau menikah dengan Meriyati Roeslani.

Fase Ketiga: Akademi Kepolisian dan Perjuangan Kemerdekaan (1946-1947)

Hoegeng mendaftar sebagai siswa Akademi Kepolisian di Mertoyudan, Magelang. Ketika Belanda meluncurkan Operasi Militer pada 21 Juli 1947, Hoegeng ditangkap oleh petugas NICA (Administrasi Sipil Hindia Belanda) namun diperlakukan baik dan akhirnya dibebaskan. Beliau kemudian ditugaskan sebagai asisten Soemarto, Wakil Kepala Polisi, di Jakarta pada November 1947 dengan tugas mengamati tahanan politik dan memberikan bantuan.

Fase Keempat: Konsolidasi dan Kenaikan Pangkat (1947-1960)

Selama periode 1947-1960, Hoegeng mengalami berbagai promosi bertahap. Pada 1952, beliau menjadi Kepala Kantor Polisi DPKN (Direktorat Pembinaan Keamanan Nusantara) di Surabaya. Pada 1956, Hoegeng dipromosikan menjadi Kepala BARESKRIM (Biro Reserse dan Kriminal) di Medan. Pada 1959, beliau mengikuti pelatihan Mobile Brigade (BRIMOB) dan menjadi staf direktorat. Pada 1960, Hoegeng ditugaskan sebagai Kepala Imigrasi dan Bea Cukai, memperluas jangkauan tanggung jawabnya dalam administrasi pemerintah.

Fase Kelima: Pengalaman Kabinet (1965-1966)

Hoegeng meninggalkan kepolisian sementara untuk menempati jabatan sipil tingkat tertinggi. Pada 1965, dalam Kabinet Dwikora, beliau diangkat menjadi Menteri Perekonomian. Pada 1966, ketika Kabinet Dwikora direvisi, Hoegeng dipromosikan menjadi Sekretaris Kabinet, menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap keahlian administratifnya.

Fase Keenam: Puncak Karir – Kepala Kepolisian Nasional (1968-1970)

Periode paling bersejarah dalam karir Hoegeng adalah masa jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Nasional Indonesia dari 1968 hingga 1970. Meskipun hanya dua tahun, dampaknya sangat signifikan. Hoegeng dikenal karena usaha berani dalam memberantas korupsi dan menghilangkan permainan kekuasaan dalam institusi kepolisian, sambil mempromosikan keadilan pidana yang setara untuk semua lapisan masyarakat.

Fase Ketujuh: Kehidupan Pasca-Kepemimpinan (1968-2004)

Setelah mengundurkan diri dari kepemimpinan kepolisian, Hoegeng tidak mundur dari kehidupan publik. Dari 1968 hingga 1979, beliau tampil di TVRI sebagai pembawa acara dan musisi dengan band The Hawaiian Seniors. Beliau juga bermain gitar Hawaii bersama isterinya (Merry Hoegeng) dan anaknya. Selama periode pensiun, Hoegeng menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional yang mencerminkan pengakuan atas dedikasi dan integritasnya. Jendral Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004 pada usia 81 tahun, meninggalkan warisan penting tentang integritas dan profesionalisme dalam kepolisian Indonesia.


Timeline ini menunjukkan bahwa karir Hoegeng mencakup berbagai dimensi: polisi tradisional, prajurit militer, administrator pemerintah, pemimpin institusi, dan akhirnya budayawan. Perjalanan karirnya selama 62 tahun mencerminkan dedikasi luar biasa kepada negara dan komitmen terhadap integritas dalam menjalani setiap tugas yang diberikan kepadanya.

Biografi Jendral Hoegeng di atas mencakup seluruh aspek kehidupannya dari masa pendidikan hingga pensiun, menggambarkan perjalanan seorang perwira kepolisian yang luar biasa integritas dan dedikasi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Baca Juga Artikel Terkait