KERAJAAN TARUMANAGARA: PUSAT PERADABAN HINDU DAN REKAYASA INFRASTRUKTUR KUNO DI JAWA BARAT (358–669 M)
Kerajaan Tarumanagara bukan sekadar entitas politik tertua di Jawa Barat; kerajaan ini adalah bukti kecerdasan leluhur Nusantara dalam tata kelola lingkungan dan rekayasa sipil. Berdiri antara abad ke-4 hingga ke-7 Masehi, Tarumanagara mencapai puncak keemasannya di bawah pemerintahan Raja Purnawarman, seorang visioner yang memahami bahwa kunci kemakmuran rakyat terletak pada penguasaan sumber daya air. Melalui penggalian Sungai Gomati dan Chandrabhaga, Tarumanagara meletakkan dasar sistem irigasi dan penanggulangan banjir yang canggih, jauh melampaui zamannya.
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai sejarah, silsilah, dan mahakarya infrastruktur Tarumanagara.
1. Awal Berdiri dan Letak Geografis Kerajaan
Tarumanagara diyakini didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi. Nama "Tarumanagara" berasal dari kata "Taruma" (nila/sungai Citarum) dan "Nagara" (kerajaan/kota). Posisi geografisnya yang strategis di dekat pantai utara Jawa Barat menjadikan kerajaan ini sebagai simpul perdagangan internasional yang penting pada masa itu.
Wilayah Kekuasaan dan Ibukota
Pusat pemerintahan Tarumanagara diperkirakan berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Bekasi atau Bogor, di antara aliran Sungai Citarum dan Cisadane. Wilayah kekuasaannya membentang luas, mencakup hampir seluruh Jawa Barat modern, Banten, hingga sebagian Jawa Tengah bagian barat.
| Aspek Geografis | Keterangan Detail |
|---|---|
| Lokasi Pusat | Lembah Sungai Citarum, Jawa Barat (Sunda Pura) |
| Batas Wilayah | Banten (Barat) hingga Sungai Serayu (Timur) |
| Era Kekuasaan | Abad ke-4 hingga Abad ke-7 Masehi |
| Basis Ekonomi | Agraris (Pertanian) dan Maritim (Perdagangan) |
| Agama Resmi | Hindu aliran Waisnawa (pemuja Wisnu) |
Lokasi di dekat muara sungai memungkinkan Tarumanagara mengontrol jalur perdagangan rempah dan komoditas, sekaligus memanfaatkan tanah aluvial yang subur untuk pertanian padi basah.
2. Dinasti dan Silsilah Raja-Raja Tarumanagara
Berdasarkan Naskah Wangsakerta, terdapat 12 raja yang pernah memerintah Tarumanagara. Stabilitas politik kerajaan ini sangat bergantung pada kewibawaan rajanya. Peralihan kekuasaan umumnya berjalan damai, memungkinkan fokus kerajaan tertuju pada pembangunan fisik dan spiritual.
Kepemimpinan Purnawarman yang Fenomenal
Raja ketiga, Purnawarman, adalah sosok sentral yang membawa Tarumanagara ke puncak kejayaan. Ia memerintah dari tahun 395 hingga 434 Masehi. Dalam Prasasti Ciaruteun, telapak kakinya disamakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu, yang menandakan statusnya sebagai Dewa-Raja atau pelindung rakyat yang memiliki otoritas mutlak dan suci.
| Nama Raja | Periode Pemerintahan (Estimasi) |
|---|---|
| Jayasingawarman | 358 – 382 M (Pendiri) |
| Dharmayawarman | 382 – 395 M |
| Purnawarman | 395 – 434 M (Masa Keemasan) |
| Wisnuwarman | 434 – 455 M |
| Indrawarman | 455 – 515 M |
Di bawah Purnawarman, Tarumanagara melakukan ekspansi militer yang agresif, menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, namun tetap memprioritaskan kesejahteraan domestik melalui pembangunan infrastruktur.
3. Rekayasa Infrastruktur: Kanal Gomati dan Chandrabhaga
Pencapaian terbesar Tarumanagara bukanlah istana megah, melainkan proyek hidrologi raksasa. Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing, Jakarta Utara, merekam secara detail proyek pembangunan kanal yang diinisiasi oleh Raja Purnawarman. Ini adalah bukti tertulis tertua mengenai proyek pekerjaan umum (Public Works) di Indonesia.
Spesifikasi Proyek Sungai Gomati
Pada tahun ke-22 masa pemerintahannya, Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati. Tujuannya adalah ganda: sebagai saluran irigasi untuk mengairi sawah di musim kemarau dan sebagai kanal pengendali banjir saat musim hujan tiba. Proyek ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang siklus hidrologi tropis.
| Detail Proyek | Fakta Historis (Prasasti Tugu) |
|---|---|
| Nama Sungai | Sungai Gomati dan Chandrabhaga |
| Panjang Kanal | 6.122 tombak (sekitar 11-12 km) |
| Durasi Pengerjaan | 21 hari |
| Tujuan Utama | Mencegah banjir di ibukota & irigasi pertanian |
| Syukuran | Pemberian 1.000 ekor sapi kepada Brahmana |
Kecepatan pengerjaan (21 hari untuk 12 km) mengindikasikan bahwa Tarumanagara memiliki kemampuan mobilisasi tenaga kerja yang masif (sistem gotong royong atau kerja wajib) dan manajemen proyek yang sangat efisien pada abad ke-5 Masehi.
4. Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat
Infrastruktur yang dibangun Purnawarman berdampak langsung pada struktur ekonomi masyarakat. Kanal Gomati mengubah lahan-lahan rawa menjadi sawah produktif, menciptakan surplus pangan yang bisa diperdagangkan. Berita dari Tiongkok (musafir Fa-Hien) menyebutkan bahwa masyarakat Tarumanagara (To-lo-mo) hidup makmur dan damai.
Komoditas dan Hubungan Internasional
Selain pertanian, Tarumanagara aktif dalam perdagangan internasional. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa menjadi tempat singgah pedagang dari India dan Tiongkok. Kerajaan ini mengekspor hasil hutan dan laut yang bernilai tinggi.
| Sektor Ekonomi | Aktivitas & Komoditas Utama |
|---|---|
| Pertanian | Padi (Beras), berkat irigasi stabil |
| Peternakan | Sapi (untuk upacara & bajak sawah), Kerbau |
| Kehutanan | Kayu Cendana, Gaharu, Kapur Barus |
| Hasil Laut | Cangkang Penyu (Tortoise shell), Gading |
| Pertambangan | Emas dan Perak (skala terbatas) |
Keberadaan kaum Brahmana yang menerima hadiah 1.000 ekor sapi juga menunjukkan bahwa strata sosial di Tarumanagara sudah terstruktur rapi, dengan kaum rohaniwan memegang peranan penting dalam legitimasi kekuasaan raja.
5. Bukti Sejarah dan Keruntuhan Kerajaan
Eksistensi Tarumanagara divalidasi oleh tujuh buah prasasti (Yupa) yang tersebar di Jawa Barat dan Jakarta, serta berita asing dari Dinasti Tang dan Sui. Prasasti-prasasti ini umumnya ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, menunjukkan tingginya tingkat literasi di kalangan elit kerajaan.
Prasasti Utama dan Isi Kandungannya
Prasasti adalah "dokumen negara" yang merekam kebijakan dan legitimasi raja. Berikut adalah dua prasasti paling signifikan yang menjadi kunci pembuka sejarah Tarumanagara:
| Nama Prasasti | Inti Isi / Makna |
|---|---|
| Prasasti Ciaruteun | Terdapat lukisan laba-laba dan telapak kaki Purnawarman yang disamakan dengan Wisnu. |
| Prasasti Tugu | Menceritakan penggalian Sungai Chandrabhaga dan Gomati serta selamatan 1.000 sapi. |
| Prasasti Kebon Kopi | Terdapat lukisan telapak kaki gajah (Airawata), tunggangan Indra. |
| Prasasti Jambu | Memuji kegagahan Purnawarman yang baju zirahnya tidak tertembus senjata. |
| Prasasti Muara Cianten | Belum terbaca sepenuhnya, ditulis dalam aksara ikal. |
Kerajaan Tarumanagara mulai mengalami kemunduran pada abad ke-7 Masehi. Faktor penyebabnya antara lain adalah bangkitnya Kerajaan Sriwijaya yang mulai mendominasi jalur perdagangan laut, serta perpecahan internal yang kemudian melahirkan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Tarumanagara akhirnya menghilang dari catatan sejarah, namun warisan rekayasa airnya tetap menjadi bukti kecemerlangan peradaban Sunda kuno.
