G. KOLFF & CO.: PERUSAHAAN PERDAGANGAN BUKU DAN ALAT KANTOR DI JANTUNG PERDAGANGAN BATAVIA ABAD KE-20

 

G. KOLFF & CO.: PERUSAHAAN PERDAGANGAN BUKU DAN ALAT KANTOR DI JANTUNG PERDAGANGAN BATAVIA ABAD KE-20



Kolff & Co di Pasar Pisang Batavia merupakan perusahaan perdagangan buku dan alat kantor terkemuka pada era kolonial Hindia Belanda. Artikel ini menganalisis peran penting perusahaan Eropa dalam distribusi budaya cetak dan transformasi pengetahuan di kalangan elite kolonial dan masyarakat pribumi di awal abad ke-20.


I. PENDAHULUAN: FOTOGRAFI ARSITEKTUR KOLONIAL SEBAGAI DOKUMEN SEJARAH

Fotografi yang Anda lampirkan merupakan sebuah dokumen visual bernilai tinggi yang merekam realitas kehidupan ekonomi dan sosial Batavia pada era transisi abad ke-19 ke abad ke-20. Bangunan putih dengan atap berjajaran yang khas gaya arsitektur kolonial Hindia Belanda ini adalah kantor dan toko perdagangan milik G. Kolff & Co., sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis "Boek- en Bureauhandel" (perdagangan buku dan alat kantor) yang terletak di lokasi strategis Pasar Pisang di Batavia.

Fotografi ini bukan hanya sebuah gambar biasa. Ini adalah jejak material dari sebuah sistem ekonomi kolonial yang kompleks, yang menghubungkan pasar buku internasional Eropa dengan kebutuhan elit administrasi kolonial dan kalangan terpelajar pribumi yang terus bertambah di awal abad ke-20. Melalui analisis mendalam tentang bangunan ini, lokasi strategisnya, dan konteks bisnis perdagangannya, kita dapat memahami mekanisme distribusi pengetahuan dan budaya cetak dalam masyarakat colonial, serta peran penting perusahaan dagang Eropa dalam membentuk landscape intelektual dan administratif Hindia Belanda.


II. KONTEKS SEJARAH BATAVIA SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN KOLONIAL

A. Transformasi Batavia: Dari Pelabuhan ke Metropolis Administratif

Pada awal abad ke-20, Batavia telah mengalami transformasi fundamental dari sekadar pelabuhan perdagangan menjadi metropolis administratif yang kompleks dan terstruktur. Kota ini, yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal (Governor-General) yang bertanggung jawab kepada pemerintah Kerajaan Belanda, menjadi jantung pemerintahan Hindia Belanda yang mengelola jutaan penduduk tersebar di seluruh kepulauan Nusantara[1][2].

Struktur pemerintahan kolonial memerlukan infrastruktur administratif yang canggih, termasuk:

  • Kantor-kantor pemerintah yang tersebar di berbagai distrik
  • Sekolah pendidikan untuk melatih pegawai pemerintah pribumi (terutama melalui Algemeene Secretarie yang melakukan standardisasi pengajaran bahasa dan budaya Melayu)
  • Perpustakaan dan arsip untuk menyimpan dokumen administrasi
  • Jaringan perdagangan dan distribusi untuk mendukung ekonomi kolonial[3]

Pertumbuhan infrastruktur administratif ini menciptakan pasar yang besar untuk buku-buku, jurnal, perlengkapan kantor, dan material cetak lainnya. Pemerintah kolonial membutuhkan ribuan formulir, laporan, surat resmi, dan dokumentasi setiap harinya. Begitu juga, sekolah-sekolah kolonial dan lembaga pendidikan memerlukan buku pelajaran, literatur referensi, dan materi pembelajaran dalam berbagai bahasa (Belanda, Melayu, Jawa, Sunda, dan bahasa-bahasa lokal lainnya).

B. Pasar Pisang: Distrik Perdagangan Strategis di Batavia

Pasar Pisang (yang secara historis dikenal dalam dokumen kolonial sebagai kawasan perdagangan aktif di Batavia) merupakan salah satu pusat pertukaran dagangan yang paling dinamis di kota ini. Lokasi ini bukan dipilih secara sembarangan, melainkan berdasarkan logika geografis dan ekonomis yang sangat strategis:

  • Akses terhadap transportasi: Pasar Pisang memiliki akses langsung kepada jalur transportasi utama, baik jalur darat maupun jalur laut yang menghubungkan Batavia dengan berbagai wilayah di Jawa dan luar Jawa
  • Dekat dengan pusat administrasi: Lokasi ini berdekatan dengan kantor-kantor pemerintah utama, sekolah-sekolah kolonial, dan lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan konsumen utama buku dan alat kantor
  • Konsentrasi perdagangan: Pasar Pisang adalah bagian dari distrik perdagangan yang terkonsentrasi, di mana berbagai perusahaan dagang Eropa dan lokal beroperasi berdampingan[2][4]

III. ANALISIS ARSITEKTUR BANGUNAN: ESTETIKA DAN FUNGSI PERDAGANGAN KOLONIAL

A. Ciri-Ciri Arsitektur Kolonial Hindia Belanda

Bangunan G. Kolff & Co. yang terekam dalam fotografi menampilkan karakteristik arsitektur kolonial Hindia Belanda yang khas pada era 1880-1920:

1. Fasade Putih (Whitewashed Facade)

  • Fungsi praktis: Warna putih memantulkan panas tropis yang intens, menjaga suhu interior tetap lebih sejuk tanpa perlu pendingin buatan
  • Signifikansi sosial: Warna putih melambangkan kemurnian, kebersihan, dan status sosial tinggi yang dikaitkan dengan kehadiran Eropa di koloni
  • Kontras dengan sekitar: Warna putih bangunan Eropa terlihat mencolok dibandingkan dengan bangunan-bangunan pribumi yang lebih gelap dan sederhana, menciptakan visual hierarchy yang memperkuat dominasi Eropa[5]

2. Atap Berjajaran Curam (Pitched Roof)

  • Desain untuk iklim tropis: Atap yang curam memungkinkan air hujan lebih cepat mengalir turun, mengurangi kemungkinan kebocoran dan pembusukan kayu
  • Inspirasi arsitektur Eropa: Gaya atap ini mengikuti tradisi arsitektur Northern European, terutama Belanda dan Skandinavia, mencerminkan identitas budaya penjajah
  • Praktik konstruksi hibrid: Meskipun menggunakan gaya atap Eropa, penggunaan material lokal dan adaptasi terhadap iklim menunjukkan kolaborasi antara pengetahuan konstruksi Eropa dan pemahaman lokal tentang cuaca tropis

3. Jendela-Jendela Tinggi dengan Jalusi (Tall Windows with Louvered Shutters)

  • Ventilasi dan pencahayaan: Jendela yang tinggi dan lebar memungkinkan sirkulasi udara alami dan masuknya cahaya alami yang maksimal, mengurangi ketergantungan pada penerangan buatan
  • Privasi dan keamanan: Jalusi (louvered shutters) yang dapat dibuka dan ditutup memungkinkan penghuni mengontrol siapa yang bisa melihat ke dalam bangunan, penting untuk menjaga kerahasiaan dokumen bisnis dan administrasi
  • Estetika kelas: Jendela yang besar dan rapi mencerminkan standar estetika Eropa modern, dalam kontras dengan rumah-rumah pribumi yang lebih sederhana[6]

4. Struktur Dinding Masif (Solid Masonry Walls)

  • Daya tahan: Dinding dari batu bata atau batu karang yang dilapisi plester putih memberikan ketahanan jangka panjang terhadap cuaca tropis, rayap, dan kondisi kelembaban tinggi
  • Keamanan nilai: Dinding yang masif memastikan keamanan fisik bagi dokumen dan inventaris buku berharga yang disimpan di dalam

B. Organisasi Spatial: Pemisahan Fungsi Komersial dan Perkantoran

Dari fotografi, dapat diamati bahwa bangunan ini dirancang dengan pemisahan fungsi yang jelas:

  • Bagian depan (ground floor): Ruang toko dan display untuk penjualan buku, majalah, peralatan kantor, dan perlengkapan tulis kepada masyarakat luas
  • Bagian belakang/atas: Kemungkinan digunakan sebagai kantor administrasi, gudang penyimpanan inventaris, dan ruang kerja karyawan

Desain ini mencerminkan model bisnis retail Eropa modern yang memisahkan antara ruang penjualan (yang terbuka untuk publik dan dirancang untuk menarik perhatian) dan ruang administrasi (yang tertutup dan bersifat pribadi/internal). Ini berbeda dengan model tradisional perdagangan Asia di mana pemilik bisnis hidup dan bekerja di lokasi yang sama tanpa pemisahan yang jelas.


IV. KOLFF & CO.: PROFIL PERUSAHAAN PERDAGANGAN BUKU DAN ALAT KANTOR

A. Latar Belakang Bisnis Perdagangan Buku di Hindia Belanda

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, perdagangan buku di Hindia Belanda mengalami periode pertumbuhan yang signifikan. Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ini antara lain:

1. Ekspansi Pendidikan Formal

Pemerintah kolonial Belanda memulai investasi besar-besaran dalam sistem pendidikan formal untuk:

  • Melatih pegawai pemerintah pribumi yang berbicara Belanda
  • Menyebarkan ideologi kolonial dan "peradaban Barat" kepada masyarakat pribumi
  • Menciptakan kelas menengah tercerahkan yang loyal kepada kolonial dan berfungsi sebagai intermediary antara pemerintah dan masyarakat pribumi[7][8]

Ekspansi pendidikan ini menciptakan demand yang besar untuk buku pelajaran, literatur referensi, dan materi pembelajaran dalam berbagai bahasa.

2. Pertumbuhan Birokrasi Kolonial

Sistem administratif yang semakin kompleks memerlukan:

  • Formulir-formulir cetak yang terstandarisasi
  • Buku panduan prosedur administratif
  • Surat-surat resmi yang bercetak dengan format standar
  • Dokumen-dokumen pemerintah yang direproduksi dalam jumlah besar[1]

3. Pertumbuhan Literasi dan Kesadaran Nasional

Secara paradoks, ekspansi pendidikan kolonial yang dirancang untuk menciptakan loyalitas terhadap pemerintah Belanda justru menciptakan kondisi untuk pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Kaum terpelajar pribumi mulai membaca surat kabar, majalah, dan buku-buku yang mendiskusikan isu-isu sosial, budaya, dan politik. Ini menciptakan pasar yang terus berkembang untuk publikasi lokal dan regional.

Pada tahun 1900-an, surat kabar dan majalah berbahasa Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lainnya mulai bermunculan, menciptakan ekosistem media yang dinamis dan pluralistik di Hindia Belanda.

B. Fungsi Kolff & Co. dalam Ekosistem Distribusi Budaya Cetak

G. Kolff & Co. berfungsi sebagai distributor utama dan retailer dalam jaringan perdagangan buku dan alat kantor. Perusahaan seperti ini memiliki beberapa fungsi penting:

1. Importasi dari Eropa

  • Menerima pengiriman buku-buku terbaru dari penerbit Belanda (seperti Golike & Vilborg yang kita lihat pada kartupos Elizaveta Bem sebelumnya)
  • Mengimpor perlengkapan kantor modern, seperti mesin ketik, pensil, kertas berkualitas tinggi, tinta, dan material tulis lainnya
  • Bertindak sebagai agen distribusi resmi untuk brand-brand Eropa

2. Distribusi Lokal

  • Menjual buku dan perlengkapan kantor kepada:
    • Pegawai pemerintah Eropa dan pribumi
    • Sekolah-sekolah kolonial dan institusi pendidikan
    • Pengusaha dan pemilik bisnis
    • Kaum intelektual dan penulis
    • Masyarakat umum yang semakin melek huruf

3. Fungsi Referensi dan Informasi

  • Toko buku seperti Kolff & Co. berfungsi sebagai tempat pertemuan intelektual di mana orang-orang dari berbagai latar belakang dapat bertemu, menukar ide, dan mendiskusikan publikasi terbaru
  • Pemilik toko sering memiliki pengetahuan mendalam tentang apa yang sedang populer, apa yang baru terbit, dan apa yang diminati oleh berbagai segmen masyarakat

V. ORANG-ORANG DI DEPAN TOKO: RIWAYAT SOSIAL PERDAGANGAN KOLONIAL

A. Karyawan dan Penjual Toko

Dalam fotografi, dapat dilihat sekelompok orang berdiri di depan bangunan Kolff & Co., yang dapat diinterpretasikan sebagai karyawan toko dan mungkin juga pemilik bisnis. Kehadiran mereka dalam fotografi ini memberi kita petunjuk tentang demografi dan struktur sosial perdagangan kolonial:

  • Pemilik/Manajer: Kemungkinan besar adalah seorang Eropa (atau keturunan Eropa) yang memiliki modal dan koneksi bisnis dengan penerbit-penerbit Eropa
  • Staf penjualan: Terdiri dari pribumi yang berpendidikan (bisa berbicara Belanda dan Melayu) dan mungkin juga beberapa Eropa muda yang ditugaskan untuk bekerja di toko
  • Pekerja tambahan: Kemungkinan ada juga juru tulis, petugas gudang, dan pengiriman yang tidak terlihat dalam fotografi ini

Struktur ini mencerminkan hierarki kolonial yang ketat: Eropa (terutama dari kalangan bourgeois/pengusaha) menempati posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan, sementara pribumi yang terpelajar bekerja di posisi-posisi menengah (penjualan, administrasi), dan pribumi yang tidak terpelajar bekerja dalam pekerjaan manual (pengiriman, pemuatan barang).

B. Transaksi dan Interaksi Sosial

Toko seperti Kolff & Co. adalah tempat di mana berbagai kelompok sosial berinteraksi dalam hubungan komersial:

  • Pegawai pemerintah Eropa datang membeli buku-buku referensi dan perlengkapan kantor yang diperlukan untuk pekerjaan administrasi mereka
  • Pegawai pemerintah pribumi datang membeli buku-buku untuk membantu mereka memahami sistem administratif Belanda dan memperdalam pengetahuan bahasa Belanda mereka
  • Guru-guru sekolah kolonial datang untuk membeli buku-buku pelajaran dan materi mengajar
  • Kaum intelektual pribumi (penulis, jurnalis, pemimpin pemuda) datang untuk mencari literatur terbaru tentang ide-ide modern, nasionalisme, dan reformasi sosial[8]

Toko ini bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan ruang sosial di mana pengetahuan, ide, dan nilai-nilai diskursif dipertukarkan. Kehadiran toko buku adalah indikasi penting tentang pertumbuhan pasar budaya cetak dan kesadaran intelektual yang terus meningkat di kalangan masyarakat Batavia pada era ini.


VI. TRANSFORMASI BATAVIA DAN DAMPAK TERHADAP PERDAGANGAN BUKU

A. Pergeseran dari Batavia Lama (Oud Batavia) ke Weltevreden

Pada era ketika fotografi Kolff & Co. diambil (diperkirakan awal hingga pertengahan abad ke-20), Batavia sedang mengalami pergeseran geografis yang signifikan dari pusat perdagangan lama (Oud Batavia) menuju wilayah administratif baru (Weltevreden)[1].

  • Batavia Lama (sekitar daerah Kota Tua modern): Pusat perdagangan yang ramai, di mana pedagang, juragan, dan pekerja pelabuhan berkumpul. Toko-toko kecil dan warung makan yang sederhana mendominasi kawasan ini.
  • Weltevreden: Wilayah administratif yang baru dibangun, di mana kantor-kantor pemerintah pusat, sekolah-sekolah elit, dan rumah-rumah mewah para pejabat Eropa berkumpul

Lokasi Pasar Pisang, di mana Kolff & Co. berada, adalah area transisi antara kedua pusat ini—masih dekat dengan perdagangan tradisional Batavia Lama, tetapi juga memiliki akses mudah ke Weltevreden dan kantor-kantor administrasi pusat.

B. Implikasi untuk Perdagangan Buku dan Alat Kantor

Pergeseran ini memiliki implikasi penting bagi bisnis seperti Kolff & Co.:

  • Pertumbuhan demand: Dengan berpindahnya pusat pemerintahan dan administrasi ke Weltevreden, jumlah pegawai pemerintah yang membutuhkan buku, formulir, dan perlengkapan kantor terus meningkat
  • Professionalisasi perdagangan: Toko-toko buku dan alat kantor yang modern (seperti Kolff & Co.) dengan standar layanan Eropa mulai menggantikan penjual keliling tradisional
  • Diversifikasi produk: Selain buku dan kertas, toko-toko ini mulai menjual produk-produk lain yang mendukung kehidupan administrasi modern, seperti mesin ketik, peralatan gambar teknik, dan alat-alat kantor lainnya

VII. DINAMIKA PERDAGANGAN BUKU: PERSAINGAN, KOLABORASI, DAN EKOLOGI BISNIS

A. Ekosistem Perdagangan Buku di Hindia Belanda

Perdagangan buku di Hindia Belanda pada era ini tidak hanya melibatkan toko-toko retail seperti Kolff & Co., tetapi juga:

  • Penerbit lokal: Perusahaan-perusahaan cetak dan penerbitan yang mencetak buku-buku lokal (terutama dalam bahasa Melayu dan bahasa-bahasa lokal lainnya)[7][8]
  • Penerbit Eropa yang memiliki cabang di Batavia: Beberapa penerbit besar Belanda membuka kantor perwakilan di Batavia untuk mempermudah distribusi
  • Organisasi pemerintah yang menerbitkan materi cetak: Seperti Algemeene Secretarie yang menerbitkan buku-buku standar untuk pelatihan pegawai pemerintah[1]
  • Penjual keliling tradisional: Yang masih menjual buku-buku lokal secara informal di pasar dan tempat-tempat umum

Dalam ekosistem yang kompleks ini, toko-toko buku retail seperti Kolff & Co. memainkan peran penting sebagai consolidator dan distributor informasi kepada masyarakat luas.

B. Persaingan dan Diferensiasi Produk

Toko-toko buku Eropa seperti Kolff & Co. bersaing dengan penjual buku lokal dan tradisional melalui:

  • Kualitas produk: Menawarkan buku-buku berkualitas tinggi yang diimpor dari Eropa, dengan binding yang kuat dan kertas berkualitas baik
  • Standar layanan: Menyediakan konsultasi kepada pelanggan tentang buku-buku yang tepat untuk kebutuhan mereka
  • Produk komplementer: Menjual perlengkapan kantor modern (mesin ketik, kertas premium, tinta berkualitas) yang tidak tersedia di toko-toko lokal tradisional
  • Lokasi strategis: Berlokasi di area perdagangan utama dengan akses mudah dari kantor-kantor pemerintah dan sekolah

Namun, toko-toko lokal dan penerbit pribumi memiliki keuntungan mereka sendiri:

  • Harga lebih murah: Buku-buku lokal biasanya lebih terjangkau bagi masyarakat pribumi dengan daya beli rendah
  • Konten lokal: Menyediakan literatur dalam bahasa lokal dan dengan konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari
  • Jaringan distribusi yang luas: Penjual keliling tradisional dapat menjangkau daerah-daerah yang jauh

VIII. NARASI VISUAL DALAM FOTOGRAFI KOLONIAL: MEMBACA JEJAK SEJARAH

A. Fotografi Sebagai Dokumen Arkeologi Sosial

Fotografi G. Kolff & Co. adalah dokumen berharga untuk rekonstruksi kehidupan sosial dan ekonomi Batavia. Melalui analisis visual yang cermat, kita dapat mengekstraksi informasi tentang:

1. Teknologi dan Infrastruktur

  • Kehadiran barang-barang di depan toko: Terlihat seperti tong-tong atau wadah penyimpanan yang mungkin berisi buku-buku atau perlengkapan kantor yang sedang diunduh dari kapal atau disiapkan untuk pengiriman
  • Kondisi jalan dan lingkungan: Jalan yang belum diaspal menunjukkan bahwa Pasar Pisang pada era ini masih dalam tahap pengembangan infrastruktur, sebelum modernisasi jalan raya di Batavia

2. Demografi Sosial

  • Kehadiran berbagai jenis orang di depan toko: Mencerminkan komposisi sosial yang heterogen dari Batavia pada era ini, meskipun fotografi mungkin telah disusun khusus untuk kepentingan dokumentasi resmi

3. Praktik Bisnis Modern

  • Tulisan nama toko yang jelas di fasade bangunan: Menunjukkan bahwa identifikasi brand dan signage adalah bagian penting dari strategi marketing Eropa modern, berbeda dengan praktik bisnis tradisional di mana identitas toko bersifat lebih implisit dan dikenal melalui word-of-mouth

IX. KESIMPULAN: KOLFF & CO. SEBAGAI JENDELA TERHADAP MODERNITAS KOLONIAL

Fotografi bangunan G. Kolff & Co. di Pasar Pisang adalah jauh lebih dari sekadar gambar sebuah toko. Ini adalah dokumen visual yang merekam momen penting dalam sejarah intelektual dan ekonomi Hindia Belanda, ketika:

  1. Sistem pendidikan dan administrasi kolonial menciptakan demand yang besar untuk budaya cetak dan literasi
  2. Teknologi percetakan modern memungkinkan produksi dan distribusi buku dalam skala massal
  3. Perdagangan buku menjadi industri yang penting, melibatkan ratusan perusahaan, ribuan karyawan, dan jutaan konsumen
  4. Ideologi modern tentang kemajuan, rasionalitas, dan ketertiban—yang dipresentasikan melalui buku, majalah, dan dokumen resmi—mulai mengubah cara orang berpikir, berbicara, dan bertindak

Perusahaan seperti Kolff & Co. adalah agen dari modernisasi kolonial, yang menyebarkan pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai Eropa kepada masyarakat Hindia Belanda. Namun, ironisnya, infrastruktur intelektual dan komunikasi yang dibangun oleh sistem kolonial ini—termasuk toko-toko buku seperti Kolff & Co.—juga menjadi fasilitas yang memungkinkan para pemimpin nasionalis Indonesia membaca, berdiskusi, dan mengorganisir gerakan kemerdekaan.

Fotografi ini adalah testimoni dari kompleksitas sejarah kolonial, di mana dorongan untuk modernisasi dan rasionalisasi justru menciptakan kondisi-kondisi bagi perlawanan terhadap kolonialisme itu sendiri.


Catatan Penelitian: Analisis ini menggabungkan metodologi sejarah arsitektur, sejarah bisnis, sejarah intelektual, dan semiotika visual untuk menghasilkan pemahaman komprehensif tentang sebuah bangunan kolonial sederhana yang sebenarnya merupakan simpul penting dalam jaringan perdagangan global, modernisasi teknologi, dan transformasi sosial di Hindia Belanda[1][2][7][8][9].

Kutipan: [1] Jakarta Abad XIX dalam Kolofon Naskah Melayu Koleksi A.B. Cohen Stuart di Perpusnas RI https://ejournal.perpusnas.go.id/jm/article/download/3356/pdf [2] Bataviaasch Genootschap Van Wetenschappen and the Institutionalization of Science in the Dutch East Indies 1778-1942 http://diakronika.ppj.unp.ac.id/index.php/diakronika/article/view/415 [3] Sejarah Jogja Library Center (JLC) Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta https://journal.uii.ac.id/unilib/article/download/27034/14939 [4] GUDANG-GUDANG DI KARAWANG: KELETAKAN DAN FUNGSINYA DALAM SEJARAH PERNIAGAAN MASA HINDIA BELANDA The Storehouses In Karawang: Location and Functions On Commerce History in The Netherlands Indie Period http://purbawidya.kemdikbud.go.id/index.php/jurnal/article/view/P3%281%292014-4 [5] Objects, Nostalgia and the Dutch Colonial Elite in Times of Transition, ca. 1900–1970 https://brill.com/downloadpdf/journals/bki/170/4/article-p504_4.pdf [6] Facade Identification of colonial buildings in the city of Bandung https://www.semanticscholar.org/paper/d8cb2f54f5c821193103b8b0a3f82a2b9a683715 [7] PRINT CULTURE IN SUNDANESE FOR 100 YEARS IN THE DUTCH EAST INDIES http://ejournal.upi.edu/index.php/BS_JPBSP/article/view/12142 [8] Colonial Print Culture: Sundanese Book Publishing in the Dutch East Indies in the Early Twentieth Century https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/69966/32357 [9] A Book Industry in Transition: The Shortage of Books in Indonesia in the Late 1940s and 1950s’ https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/69967/32358 [10] lossy-page1-2000px-Boek-_en_bureauhandel_G.Kolff-_Co._aan_Pasar_Pisang_te_Batavia-_KITLV_26607.tiff.jpg https://ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws.com/web/direct-files/attachments/images/58213274/07d3ad41-a5b9-4ede-8ff1-f001394d05b2/lossy-page1-2000px-Boek-_en_bureauhandel_G._Kolff_-_Co._aan_Pasar_Pisang_te_Batavia-_KITLV_26607.tiff.jpg?AWSAccessKeyId=ASIA2F3EMEYE34KQX3YO&Signature=l9p%2FdXGuEdawhr3XkRgjOuXkkpI%3D&x-amz-security-token=IQoJb3JpZ2luX2VjEGEaCXVzLWVhc3QtMSJHMEUCIQDP9VXpwYc2XZoKHBLaqLsqsrELYY9TSuc3Jjjw%2F9tvKgIgQAXwXula4Bc1biIzA%2BJwEVQ%2FMCYd14JiF4Ysexk3mkQq8wQIKRABGgw2OTk3NTMzMDk3MDUiDAQjvq4FS0R8zwL%2BPSrQBHaPYeLuDZ1G1WgM3ds4G5brkm1y67q4I1uUcVakfVAA%2BqsMOoI4TKLf88RiSPXE%2BqFJ4dmqgzTLikcgSa02SvEzKrmZi%2BFTvFREgM6JA%2FB%2FreP9dGXpn9yHZA1SZi3xhpld%2FRraW%2BMscmRSXWiy%2B3czbZ1%2Bse8W8ubMHuqAwFoC9AL8zloobLxB3jcXMn5s732W9V6IB5niaEuFp4yEcqAVWS4Meu%2Bxk%2BcLsd%2FoCkoV4GC4pgrreBbwYZU0dgx%2B8RbXu%2F8jco%2FIw4RaCMupes0NAHIGXapstd06Y6md2uQ%2BHD3p7ubWpnW3NdYcxn1cNCQoFBTrGsv%2FhEeeknkYCN%2FbskLP7HpVYxV9I0cPqijGe3dHRgM3vE6IC0e1P323bTSINcqKxax%2BfiehFNRSQk4wi7CG1uFivMC4WpWkTM7Bf04YgA2VgxUVtux6Y2QQ7jqEyXTnEwhEmDSmV6m8fIo11XpNzVNSXLu6jXxU3H6ADQPzcp5WSQMEfgpDeTVZ2ghHUwPHlk61VM54QC1baHAkyG%2FO9L4lna7QqFNucy7aBWud57FhpbDkK7CeSIx7OF8CimNTVzK%2FGAqXD17Z%2Fn8eKnusiCgnTppn6MxKgsFdxekwfQxF3nW6cchcyNuZqiANOkKSN5MQAXLc39%2BOMXdCuu087S%2BJkEdtpA0Rs5vnKcHOpFnNwR2fIuCo7%2FXzPMtRhuChUtcnIvuVr7eY99cu%2F%2B1nTSMD8j8uWCsnbA44alVCHcxesxFRuN%2FptZnKcMzkBdOYL%2BuKC%2FPMdI%2FHIaYww8DoygY6mAFYi0BAd6Ey%2FlJO7fjotImWlIWZMOLuUWUsyN00K2ssUtyBFvc3fuHDFM2N%2BkTb2eTaXyxVqpQGvw361y0fE9sfFDLc7RACNE7iEU3j92Vp0j3M52KFwOIeQyxDRpXTeKmvi3qI%2FseKPYHKVruIGunn3Qvr%2FJF7ycAAW08qvrkamKQVqx813uVwk%2BQ9hvhIcVO2BVBDNIy5YA%3D%3D&Expires=1767514833 [11] Perka_BPS_No50_Tahun_2013Kode_dan_Wilayah_Kerja_Statistik_Tahun_2013_1659514270.pdf https://ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws.com/web/direct-files/collection_3b04e3b3-a3c4-4a07-b3b8-09f208aa120e/4c4d745a-4e65-4697-aef0-ce0dc51f2e2e/Perka_BPS_No__50_Tahun_2013__Kode_dan_Wilayah_Kerja_Statistik_Tahun_2013_1659514270.pdf [12] Screenshot_20260104_144751.jpg https://ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws.com/web/direct-files/attachments/images/58213274/8b83836d-fd57-402a-ad6f-3790d6ccbabc/Screenshot_20260104_144751.jpg [13] 2000px-Postcards_by_Elizaveta_Bem_byRichard-_071.jpg https://ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws.com/web/direct-files/attachments/images/58213274/4d3b765b-daf7-4298-ac90-f66e3f14fd4c/2000px-Postcards_by_Elizaveta_Bem_by_Richard_-_071.jpg [14] Performing Colonial Modernity: Fairs, Consumerism, and the Emergence of the Indonesian Middle Classes https://brill.com/downloadpdf/journals/bki/173/4/article-p503_4.pdf [15] The Balai Pustaka publishing firm (1917) in the Dutch East Indies https://www.semanticscholar.org/paper/cf06452bbfeb753798864c70d5ed4b20c6bb8859 [16] Early Commercial and Consular Relations with the East Indies https://online.ucpress.edu/phr/article/15/1/31/72198/Early-Commercial-and-Consular-Relations-with-the [17] SASTRA CETAK AWAL HINDIA BELANDA DI SEMARANG https://susastra.hiski.or.id/jurnal/index.php/susastra/article/view/140 [18] Visions of empire. Changing American perspectives on Dutch colonial rule in Indonesia between 1920 and 1942 https://bmgn-lchr.nl/article/view/URN%3ANBN%3ANL%3AUI%3A10-1-104407 [19] Monsoon Traders: Ships, Skippers and Commodities in Eighteenth-Century Makassar https://www.semanticscholar.org/paper/cf2c30d2024b35ab8e3f53281514717f58250ec4 [20] Kennis is macht: de veelzijdige expedities van botanicus Pieter Willem Korthals (1807–1892) https://platform.openjournals.nl/studium/article/view/20305 [21] Places of misery: mapping slavery of the Dutch East India Company (VOC), 1602–1799 https://pure.rug.nl/ws/files/195837896/85466869_7149469_ica_abs_3_34_2021.pdf [22] Balai Pustaka and the Politics of Knowledge https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/69965/32362 [23] Representation of an Early Dutch Colonial State in the East, 1778-1826 https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/23770/15651 [24] The East Indian Water World 1709-1760: A comparison of two Dutch manuscript atlases https://www.abstr-int-cartogr-assoc.net/3/227/2021/ica-abs-3-227-2021.pdf [25] Batavia shipwreck timbers reveal a key to Dutch success in 17th-century world trade https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8555829/ [26] Carrying dreams to the colonizer’s country: the historical experiences of the Algemeene Middelbare School A-1 Eastern literature intellectual network in crossing oceans in the colonial era https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/23311983.2024.2365041?needAccess=true [27] Rescued from the Myths of Time: Toward a Reappraisal of European Mercantile Houses in Mid-Nineteenth Century Java, c. 1830–1870 https://brill.com/abstract/journals/bki/170/2-3/article-p313_6.xml [28] Bibliographic Data Science and the History of the Book (c. 1500–1800) https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/01639374.2018.1543747?needAccess=true [29] Transimperial Eyes: An Interdisciplinary Analysis of Colonial Narratives about the Dutch Expedition to Southern Chile (1643) https://www.mdpi.com/2571-9408/6/12/399/pdf?version=1702018651 [30] Shifting Price Levels Of Books Produced At The Officina Plantiniana In Antwerp, 1580–1655 https://zenodo.org/record/3688693/files/Proot%202019.pdf [31] Review of Welvaart in zwart-wit https://bmgn-lchr.nl/article/download/URN:NBN:NL:UI:10-1-106626/4201

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Baca Juga Artikel Terkait